-Bagaimana Cara Menulis Dialog yang Efektif?-Dialog di dalam novel sama halnya dialog di sebuah film atau percakapan kita sehari-hari. Di mana, percakapan/dialog itu harus mudah dipahami dan padat. 

Problem yang banyak terjadi saat ini terutama di dunia platform menulis online adalah semakin panjang dialog, semakin asik. Ada juga penulis yang mengatakan "Aku suka nulis dialog yang panjang dan lebih suka begitu." 

Well, Mimo sendiri tidak tahu penulis-penulis ini dapat ilmunya dari mana. Yang jelas, banyak penulis best seller Indonesia dan luar negeri yang sering membagikan tips-tips menulis termasuk bagaimana cara menulis dialog yang efektif. 


1. Dialog itu harus ramping/padat.

Satu pertanyaan. Saat melakukan percakapan dengan teman kerja, guru, orangtua, atau saudara, kira-kira seperti apa percakapan Sobat Morfeus? Pasti singkat dan kalau percakapan itu membosankan, rasanya justru ingin cepat-cepat diakhiri.

Contoh percakapan saat bertemu guru di parkiran sekolah: 

"Selamat pagi, Bu," sapa Ardi ketika melihat Bu Susi.

"Pagi, Ardi."

Tidak mungkin kan percakapan antara guru dan murid seperti ini:

"Selamat pagi, Bu. Hari ini kok tumben berangkat pagi sekali. Sudah sarapan, Bu? Masak apa buat sarapan? Kalau Ardi sih minum air putih doang. Ibunya Ardi sedang marah karena Ardi keluyuran terus."

"Pagi juga, Ardi. Iya, nih. Ibu ada pekerjaan tambahan. Jadi harus berangkat pagi-pagi. Tadi Ibu sarapan roti bakar isi selai kacang coklat. Enak, deh. Makanya lain kali tidak usah keluyuran ya biar ibumu tidak marah dan mogok bikin sarapan. Hehehe."


2. Dialog informatif. 

Kebanyakan penulis memberikan informasi waktu, tempat, ciri-ciri fisik si tokoh, rasa, serta perasaan melalui narasi. Padahal, Sobat Morfeus juga bisa menyelipkan informasi-informasi tersebut ke dalam dialog. 

Misalnya: 

"Habis dari salon, Rin?" tanya Mona saat melihat ada yang berbeda dengan rambut Rina.

"Kok tahu, sih? Kelihatan cakep, ya?"

"Iya, ih! Keliatan berkilau. Mata gue sampai hampir buta saking silaunya."

Contoh yang sering dilakukan penulis:

Mona melihat Rina dengan tatapan takjub saat melihat teman kantornya yang baru masuk. Hari ini penampilannya beda dari biasanya. Rambutnya nampak berkilau seperti mutiara hitam di dasar laut. Mona jadi iri melihatnya dan penasaran di salon mana Rina merawat rambut.


3. Baca dialog yang kamu tulis lalu dengarkan.

Saat bingung atau tidak yakin bahwa dialog yang Sobat Morfeus tulis sudah efektif atau belum, cobalah baca dengan lantang kemudian dengarkan. Apakah sudah enak dibaca dan juga enak didengar? Kalau belum, coba cari kata lain yang lebih efektif atau buatlah kalimat berdasarkan SPO atau SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan). 

Contoh: 

"Sedang makan apa kamu? Pelit ya kamu enggak bagi-bagi."

Dari kalimat di atas coba Sobat Morfeus baca. Apakah dialognya sudah enak dibaca dan didengar? Kalau merasa ada yang aneh, coba ubah kalimatnya menjadi seperti ini:

"Kamu sedang makan apa? Bagi, dong. Sama teman sendiri jangan pelit."

Which one better? Yang atas atau bawah? Sobat Morfeus bisa komen di bawah.


4. Dialog harus mengandung unsur ciri khas tokoh.

Maksudnya adalah pastikan saat Sobat Morfeus menulis, selipkan ciri khas si tokoh agar pembaca tahu dan bisa membedakan bahwa yang sedang bicara adalah si A atau si B. 

Contoh:

"Lo gak makan, Din?" 

"Gak ah, Sus. Aku gak laper."

"Diet? Padahal gue mau neraktir lo."

"Serius kamu mau neraktir? Kalau gitu aku gak jadi diet, deh!"

 Dari penggalan dialog di atas kita bisa melihat perbedaan bagaimana kalau tokoh-tokoh di dalam novel kita berbicara. Din menggunakan lo-gue, sementara Sus memakai aku-kamu. 

Selain penggunaan aku-kamu, gue-loe, atau saya-Anda, Sobat Morfeus juga bisa menyelipkan unsur-unsur lain seperti; bahasa asing atau dialek/logat.

Contoh:

"Tadi kan aku sudah bilang to? Jangan lewat situ. Kok masih ngeyel."

Dari dialog di atas kita bisa mengetahui bahwa tokoh tersebut berasal dari Jawa.


Gimana Sobat Morfeus? Apakah artikel ringan ini bisa membantumu dalam menulis dialog yang lebih efektif lagi? Terima kasih sudah mampir, semoga bermanfaat, dan sampai ketemu dengan Mimo di tips menulis selanjutnya. (*)