-Hal-Hal yang Harus Kamu Perhatikan Sebelum Menulis Novel Dengan Setting Luar Negeri- "Kalau mau nulis novel setting luar negeri itu ya minimal harus ke sana dululah. Biar feel-nya terasa." Mimo pernah nih dengar seorang teman penulis yang berkata demikian. Padahal, anggapan itu salah besar. Sobat Morfeus bisa kok menulis cerita dengan setting luar Indonesia tanpa harus ke sana terlebih dahulu dan feel-nya tetap terasa nyata. Berikut Mimo bagikan tipsnya buat kamu. 


1. Tentukan dulu negara/kota mana yang akan menjadi setting untuk novel kamu. 

Sebelum menulis cerita, tentu kita harus tahu dulu. Di kota mana nih based story novel kita. Jepang, Paris, Singapura, atau yang lain? 


2. Cari tahu tentang geografi negara/kota tersebut.

Baca betul-betul informasi yang didapat di Google. Misalnya kita menggunakan setting di Osaka. Osaka itu di negara mana, sih? Terletak di benua mana dan berapa banyak penduduknya, musimnya apa saja, musim dungin di bulan berapa, kapan mulai musim gugur, dll. 

Kenapa sih kita harus mencari informasi tersebut? Kenapa tidak asal nulis saja? Kan lebih enak.

Jawabannya tak lain dan tidak bukan adalah agar setting cerita kita terasa nyata dan hidup. Agar lebih menghayati lagi tentang kehidupan di sebuah kota/negara, kamu bisa menontonnya di YouTube. 


3. Penulis harus tahu bagaimana kebiasaan masyarakat di sana dan apa saja makanan yang umum dimakan.

Banyak penulis yang menganggap riset semacam ini tidak penting. Alhasil, novelnya memiliki plot hole di mana-mana. Alangkah lucunya jika kita menggunakan latar kota Osaka dan tokoh-tokohnya asli orang Jepang, tapi makan menggunakan sendok atau tangan, sedangkan makanannya adalah sayur bayam dan ikan bakar. 

Suatu hari Mimo pernah membaca sebuah novel platform dengan latar Jepang. Dan Sobat Morfeus tahu apa makanannya? Sup bayam. Di cerita lain, Mimo juga menemukan cerita dengan latar London dan orang-orang asli sana minum jamu saat sakit. 

Sejak kapan bule minum jamu? Yang masih menggunakan ramuan herbal sampai saat ini adalah Indonesia, itu pun golongan tertentu saja karena anak muda gak doyan minum jamu. Ada lagi Chinese, orang Cina kehidupannya kental akan ramuan herbal. Saat memasak saja mereka memasukkan gingseng dan bahan tradisional lain. Sedangkan orang Jepang, tata cara makannya sangat berbeda dengan orang Indonesia. Di Jepang, orang-orang menggunakan sumpit saat sedang makan dan sup yang sering menemani keseharian mereka adalah miso sup/sup miso. Isinya sendiri adalah tahu sutra dan juga kombu/rumput laut. Tidak ada taburan bawang goreng apalagi bawang putih goreng. Ingat, ini miso sup. Bukan soto ayam.

Hal-hal seperti di atas perlu penulis pelajari agar tulisan yang dihasilkan lebih hidup dan seolah-olah penulis sudah pernah ke sana. Dan hal yang tak kalah pentingnya adalah mempelajari bagaimana kebiasaan orang setempat. Misalnya; cara bicara, orang-orangnya suka gosip atau tidak, transportasi apa saja yang digunakan, dll. 


Thanks for reading, sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya and keep learning, keep writing! (*)